Tugas Terstruktur 11 - Analisis & Usulan Green Supply Chain (GSC)
A05 – Rizki Juni Feraro
Analisis Green Supply Chain
Management (GSCM) pada Produk Susu Kotak
1. Pendahuluan (Latar Belakang dan
Pemilihan Produk)
Isu keberlanjutan lingkungan menjadi
perhatian utama dalam aktivitas industri pangan, khususnya pada produk Fast
Moving Consumer Goods (FMCG) yang memiliki volume produksi dan konsumsi sangat
tinggi. Salah satu produk FMCG yang dikonsumsi secara luas oleh masyarakat
Indonesia adalah susu kotak. Produk ini dipilih sebagai objek kajian karena
memiliki rantai pasok yang panjang, melibatkan banyak pihak, serta menghasilkan
dampak lingkungan yang signifikan, terutama dari sisi kemasan dan distribusi.
Susu kotak umumnya dikemas
menggunakan kemasan karton multilapis yang terdiri dari kertas, plastik, dan
lapisan aluminium. Kombinasi material ini membuat kemasan sulit didaur ulang
secara konvensional dan berpotensi besar menjadi limbah residu. Selain itu,
proses produksi susu membutuhkan energi dan air dalam jumlah besar, sementara
distribusinya bergantung pada transportasi berbahan bakar fosil yang
menghasilkan emisi karbon.
Pemilihan produk susu kotak dalam
laporan ini didasarkan pada tiga pertimbangan utama. Pertama, tingkat konsumsi
yang tinggi menyebabkan akumulasi dampak lingkungan yang besar. Kedua, kemasan
susu kotak sering kali berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) karena
rendahnya tingkat daur ulang. Ketiga, produk ini memiliki peluang besar untuk
diterapkan prinsip Green Supply Chain Management (GSCM) guna menekan dampak
lingkungan tanpa mengurangi nilai ekonominya.
Oleh karena itu, laporan ini
bertujuan untuk memetakan rantai pasok konvensional susu kotak, menganalisis
dampak lingkungan pada titik-titik kritis, serta mengusulkan strategi GSCM yang
realistis dan terukur.
2. Pemetaan Rantai Pasok Konvensional
Susu Kotak
A. Pemetaan Rantai Pasok
Rantai pasok konvensional susu kotak terdiri dari beberapa tahapan utama yang saling terhubung dari hulu hingga hilir. Secara umum, alur rantai pasok susu kotak dapat dijelaskan sebagai berikut.
- Pengadaan bahan baku, yang meliputi susu segar dari peternak atau koperasi susu serta bahan kemasan berupa kertas karton, plastik, dan aluminium foil. Susu segar dikumpulkan setiap hari dan memerlukan sistem rantai dingin untuk menjaga kualitasnya.
- Proses produksi dan manufaktur, yang mencakup pengolahan susu menggunakan metode pasteurisasi atau Ultra High Temperature (UHT). Proses ini membutuhkan energi listrik dan air dalam jumlah besar. Setelah itu, susu dikemas menggunakan teknologi pengemasan aseptik untuk memperpanjang masa simpan.
- Logistik masuk dan keluar, di mana susu segar diangkut menggunakan truk berpendingin (inbound logistics), sementara produk susu kotak jadi didistribusikan menggunakan truk logistik konvensional (outbound logistics).
- Distribusi dan ritel, yang melibatkan gudang distributor, supermarket, minimarket, toko tradisional, hingga platform e-commerce. Produk disimpan dalam suhu ruang sebelum dibeli oleh konsumen.
- Akhir masa pakai (end-of-life), di mana konsumen membuang kemasan susu kotak setelah dikonsumsi. Sebagian kecil kemasan masuk ke sistem daur ulang melalui bank sampah atau pemulung, namun sebagian besar berakhir di TPA sebagai sampah residu.
B. Diagram Alir Rantai Pasok
Konvensional Susu Kotak
3. Analisis Dampak Lingkungan
Berdasarkan pemetaan rantai pasok di
atas, terdapat dua titik kritis utama yang memberikan dampak negatif terbesar
terhadap lingkungan. Analisis dampak lingkungan tersebut disajikan dalam bentuk
tabel berikut.
|
Titik Kritis |
Contoh Masalah
Lingkungan akibat Titik Kritis |
|
Pengadaan Bahan Baku
(Kemasan) |
Penggunaan kemasan karton
multilapis berbahan virgin yang berasal dari sumber daya alam tidak
terbarukan, sulit didaur ulang, dan berpotensi berakhir sebagai sampah residu
di TPA. |
|
Logistik dan Distribusi |
Emisi CO₂
yang tinggi akibat penggunaan truk diesel jarak jauh dalam distribusi produk
susu kotak, terutama dengan tingkat muatan yang tidak optimal. |
4. Usulan Strategi Green Supply Chain
Management (GSCM)
Berdasarkan dua titik kritis
tersebut, berikut diusulkan tiga strategi perbaikan berbasis prinsip GSCM yang
dapat diterapkan secara bertahap oleh industri susu kotak.
|
Prinsip GSCM |
Deskripsi Strategi |
Implementasi |
Manfaat Lingkungan |
|
Green Sourcing |
Mengganti 30–50% material kemasan
virgin dengan bahan daur ulang bersertifikat. |
Menjalin kerja sama dengan pemasok
kemasan ramah lingkungan dan menetapkan standar minimum kandungan daur ulang. |
Mengurangi penggunaan bahan baku baru
dan menekan emisi karbon dari proses produksi kemasan. |
|
Green Design & Production |
Redesain kemasan agar lebih sederhana dan mudah didaur ulang
serta meningkatkan efisiensi energi produksi. |
Investasi pada teknologi mesin hemat energi dan pengurangan
lapisan kemasan yang tidak esensial. |
Menurunkan konsumsi energi dan air serta meningkatkan potensi
daur ulang kemasan. |
|
Reverse Logistics |
Program pengumpulan kembali kemasan
pasca-konsumsi melalui bank sampah dan ritel. |
Menyediakan drop point kemasan dan
memberikan insentif kepada konsumen. |
Mengurangi limbah ke TPA dan
meningkatkan kesadaran lingkungan konsumen. |
Strategi-strategi ini saling
melengkapi dan dapat memberikan dampak signifikan apabila diterapkan secara
konsisten.
5. Kesimpulan dan Rekomendasi
Berdasarkan analisis yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa rantai pasok konvensional susu kotak masih
menimbulkan dampak lingkungan yang cukup besar, terutama pada aspek penggunaan
kemasan multilapis dan aktivitas logistik berbasis bahan bakar fosil. Dua titik
kritis utama yang diidentifikasi adalah pengadaan bahan kemasan dan distribusi
produk.
Penerapan Green Supply Chain
Management (GSCM) menjadi solusi strategis untuk menekan dampak tersebut.
Melalui penerapan green sourcing, green design and production, serta reverse
logistics, industri susu kotak dapat mengurangi jejak lingkungan sekaligus
meningkatkan citra keberlanjutan perusahaan.
Rekomendasi yang dapat diberikan
adalah agar produsen susu kotak mulai mengintegrasikan prinsip GSCM ke dalam
strategi bisnis jangka panjang, meningkatkan kolaborasi dengan pemasok dan
pemerintah, serta mengedukasi konsumen mengenai pentingnya pengelolaan limbah
kemasan.
6. Daftar Pustaka
Beamon,
B. M. (1999). Designing the green supply chain. Logistics Information
Management, 12(4), 332–342.
Srivastava,
S. K. (2007). Green supply‐chain management: A state‐of‐the‐art literature
review. International Journal of Management Reviews, 9(1), 53–80.
Seuring,
S., & Müller, M. (2008). From a literature review to a conceptual framework
for sustainable supply chain management. Journal of Cleaner Production, 16(15),
1699–1710.

.jpg)

Komentar
Posting Komentar